Tradisi Dzikir Maddate’ Jalan Spritual Masyarakat Anrang Sebagai Indentitas Keislaman Lokal
Essay ll Pmiibulukumba.id
Indonesia merupakan negara penganut ajaran Islam terbesar di dunia. Penyebaran ajaran Islam tidak terlepas dari kultur atau tradisi yang sudah melekat dalam diri masyarakat, tentu ini menjadi suatu identitas atau corak keagamaan diberbagai daerah khususnya di kabupaten Bulukumba. Ada dua unsur yang menjadi kebutuhan primer manusia yaitu kebutuhan jasmani dan rohani.
Namun, terkadang manusia lebih mengutamakan kebutuhan jasmaninya daripada kebutuhan rohaninya, sehingga dalam kehidupan sehari-hari terjadi ketidakseimbangan. Hal ini dianggap sebagai sebuah kegagalan dalam perkembangan modernitas yang mengakibatkan manusia mengalami krisis spritual. Padahal keduanya harus berkesinambungan agar menciptakan hidup yang sehat, bahagia dan kesadaran spiritual yang tinggi.
Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tidaklah aku diciptakan Jin dan Manusia kecuali menjalankan pengabdian diri baik itu kepada-Nya (Rabb) maupun sesama manusia (Nash). Sebagai insan yang beragama dan berbudaya perlu merefleksi kesyukuran dan keindahan yang merupakan keputusan batiniah tersendiri dalam menjalankan hidup agar serasa lebih bermakna, mengingat hidup yang tidak hanya sebatas duniawi semata, tapi penting juga memperdalam ilmu agama untuk mengejar Akhirat, salah satunya melalui tradisi Tarekat.
Di desa Anrang memiliki ciri khas lokalitas keislaman yang unik. Masyarakat anrang banyak belajar Islam melalui kelompok atau komunitas Tarekat khalwatiyah samman. Di dalam tarekat tersebut masyarakat di ajak untuk memperdalam ilmu agama melalui metode Dzikir yang bahasa bugisnya disebut “Maddate” yang sering dilakukan masyarakat anrang menjadi sarana spritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ritual keagamaan ini sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat anrang. Tarekat khalwatiyah samman merupakan cabang tarekat khalwatiyah yang dianut oleh masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi selatan.
Tarekat khalwatiyah samman ini didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Hasani Al-Madani. Beliau lahir di Madina pada tahun 1130H/1718M dan Wafat disana pada tahun 1189H/1775M. Salah satu keinginan syekh As-samman mendirikan Tarekat Khalwatiyah Samman adalah kebutuhan untuk pembaharuan spritual dalam masyarakat muslim.
Untuk penyebaran Tarekat khalwatiyah samman itu sendiri di Sulawesi selatan disebarluaskan oleh Syekh Abdurrazak (Puang Matowa’e) beliau lahir di Maros,1249H/1827M. Hingga mengakar sampai dikalangan dimasyarakat Bugis Bulukumba. Metode yang digunakan dalam penyebaran tersebut adalah pendekatan sosial keagamaan, dimana metode ini mengadakan majelis dzikir dan menyampaikannya dakwah melalui tokoh – tokoh agama dan para pemimpin hingga dikalangan masyarakat. Salah satunya berada di daerah Desa Anrang akan tetapi hingga kini belum jelas siapa yang pertama kali menerima penyebaran itu dalam masyarakat Anrang. Inilah bentuk dari tradisi ini adalah dengan melakukan zikir (maddate’), tradisi ini memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan pada masyarakat umumnya ketika melakukan dzikir (maddate’).
Dzikir (maddate’) dilakukan secara berjamaah setelah shalat isya dan shalat subuh yang dilaksanakan oleh beberapa orang yang dipandu oleh imam desa Anrang itu sendiri (Puang Awaluddin) yang merupakan masyarakat asli di Desa Anrang Dilaksanakan dalam mesjid atau di tempat acara – acara tertentu yang bertujuan menyampaikan pujian-pujian atau doa kepada Allah SWT. Kurang lebih 80% masyarakat Desa Anrang melakukan Dzikir (Maddate’), Hal ini dilakukan dengan suara yang besar dan diiringi pula dengan kepala yang bergerak ke kanan dan ke kiri secara berulang-ulang sambil menepuk paha, tentu ini menjadi sebuah simbol atau identitas masyarakat desa Anrang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan masyarakat menyakini bahwa hal tersebut bertujuan agar zikir (maddate’) dapat memperkuat spritiual, menyatukan hati dan pikiran dalam mendekatkan dan mengingat Allah SWT. Semakin lama mereka melantunkan asma – asma Allah SWT, maka semakin cepat pula gerakan kepala ke kanan dan ke kiri yang mereka lakukan.
Selain itu dikalangan masyarakat Desa Anrang juga menepuk paha secara bersamaan dan berulang-ulang kali, semakin cepat penyebutan asma – asma Allah SWT semakin keras dan cepat pula tepukan paha yang mereka lakukan.
Menurut pemahaman masyarakat Anrang, Tradisi dzikir ini adalah tarekat (metode) yang memiliki perspektif positif, dimana tarekat ini menekankan pentingnya mengingat Allah SWT sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya. Di Desa Anrang Dzikir (Maddate’) ini dianggap sebagai warisan budaya dan spritual dari para leluhur bukan hanya sekedar ritual tapi warisan turun temurun dalam keluarga dan menjadi bagian dari identitas keislaman lokal. Secara historis desa Anrang dan tarekat Khalwatiyah samman sudah menjadi kultur bagi masyarakat, apalagi nilai-nilai dalam ajaran tarekat tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tarekat ini mengandung nilai – nilai pendidikan Islam, seperti kesadaran atas kebesaran Allah SWT, pentingnya menjaga hati dan pikiran tetap bersih, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta diyakini memberikan dampak positif bagi kalangan masyarakat yang melaksanakannya.
Dzikir (Maddate’) menjadi bentuk atau corak lokalitas keagamaan masyarakat yang menjadi sarana perjalanan spiritual masyarakat anrang. Bukan hanya ibadah ritual pribadi, tetapi menjadi sarana mempererat hubungan emosional, memperkuat solidaritas, dan menjaga identitas corak keislaman masyarakat.
Indry, Wakil Ketua I Bidang Kaderisasi Pengurus Komisariat PMII STAI Al-Gazali Bulukumba






