Industri Porang Mengancam Ketahanan Pangan Lokal dan Lingkungan Bulukumba
Opini | Pmiibulukumba.id
Belakangan ini, munculnya tiga pabrik pengolahan porang di Bulukumba menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa industri itu tiba-tiba hadir tanpa kejelasan kepada publik? Apakah jumlah produksi porang di desa-desa benar-benar membludak dan cukup untuk memasok ketiga pabrik tersebut? Atau ini hanya ambisi sesaat yang bisa berdampak jangka panjang terhadap masa depan pangan dan lingkungan kita?
Kita harus kritis, berapa produksi porang sebenarnya di Bulukumba? Apakah sebanding dengan kapasitas pabrik? Dan apa tujuan utama produksi porang ini? Selama ini, porang banyak diekspor, khususnya ke Tiongkok, sebagai bahan industri. Tapi bagaimana jika ekspor itu berhenti? Sedangkan masyarakat tidak tahu cara mengolah porang secara mandiri. Maka hasil panen bisa menumpuk dan harga akan anjlok. Petani akan jadi korban.
Industri Porang yang Mengancam
Lebih dari itu, keberadaan industri porang juga membawa ancaman serius terhadap lingkungan, khususnya terhadap sektor pertanian padi yang berada di hilir. Limbah cair dari pabrik porang berpotensi dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan yang memadai dan akan mengubah suhu air. Sungai yang selama ini menjadi sumber irigasi sawah, bisa tercemar bahan kimia dan residu organik dari pengolahan porang. Akibatnya, kualitas udara menurun dan berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman padi.
Hasil panen padi bisa menurun drastis, karena tanaman tidak menerima air bersih yang dibutuhkan. Kandungan kimia dari limbah pabrik bisa merusak kesuburan tanah, bahkan menyebabkan tanaman layu sebelum waktunya. Ini ancaman nyata terhadap ketahanan pangan lokal.
Ini bukan kejadian yang bisa dianggap remeh. Dulu kita pernah mengalami kegagalan karena tergiur harga sesaat, seperti ketika petani mengganti tanaman cengkeh dengan tanaman lain. Ketika harga jatuh, penyesalan datang terlambat. Apakah kita ingin mengulangi kesalahan yang sama?
Tidak hanya itu, kontaminasi sungai juga berdampak pada rantai makanan yang lebih kecil. Organisme-organisme kecil seperti larva ikan, dan serangga air yang hidup di sungai akan mati karena perubahan kualitas udara. Jika ini terus terjadi, populasi ikan akan menurun dan merusak habitat hewan yang ada di sungai.
Hablum Minal Alam (Hubungan Antara Manusia dan Alam)
Ironisnya, banyak dari kita belum memahami bahwa persoalan seperti ini adalah bagian dari hablum minal alam hubungan manusia dengan alam. Kita sering menyalahkan kondisi moralitas sosial seperti pemabuk, pezina, dan lain-lain, padahal dosa terhadap lingkungan bagian dari penyebab turunnya bencana alam. Para ulama kita gagal dalam memahami permasalahan dosa terhadap lingkungan, kita gagal menjaga keseimbangan alam, banjir, kekeringan, dan longsor menjadi tak terhindarkan.
Dalam surah Ar-Rahman, Allah mengingatkan agar kita tidak mengurangi timbangan. Ini bukan hanya tentang niaga, tapi tentang menjaga keseimbangan alam, keseimbangan ekosistem. Jika kita abaikan, yang akan datang bukan hanya krisis pangan, tapi juga kehancuran lingkungan yang merugikan generasi mendatang.
Kerugian dari Industri
Lalu, siapa yang diuntungkan dari industri porang ini dan siapa yang akan mendapat mudharat-nya? Sudah pasti bukan petani kecil yang mendapat untung. Mungkin jangka pendek petani kecil akan sedikit menikmati, tetapi penikmat sebenarnya adalah para pengusaha besar dan segelintir politisi. Mereka bisa saja berkata: “Bulukumba mau rusak pun tak apa, saya punya rumah di luar negeri.” Ini adalah bentuk ketidakpedulian terhadap nasib masyarakat sendiri. Lalu bagaimana ketika lingkungan sudah rusak, udara sudah tercemar dan ditinggalkan, siapa yang harus bertanggung jawab. Kita bisa berkaca pada industri nikel di Bantaeng, hari ini sudah mulai di tutup dan pasti akan ditinggalkan oleh para cukong-cukong perusak itu, mungkin masyarakat sudah mulai tersadar akan dampaknya, mereka sudah di PHK massal, disisi lain kondisi lingkungan sudah hancur dan tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari hasil alam yang ada di dekat industri tersebut.
Pangan Lokal Harus Ditingkatkan
Pemerintah seharusnya tidak sibuk membangun pabrik-pabrik besar. Fokus utama harusnya adalah menjaga pangan, menjaga alam, dan membangun pertanian yang berkelanjutan. Bukan mengejar ekspor semata.
Mengapa bukan padi atau jagung yang dijaga community nya? Masyarakat tahu bagaimana mengolahnya. Tapi porang bagaimana? Ketika hasil porang tak laku, siapa yang rugi?
Jika kita terus mengorbankan lahan pertanian demi pabrik porang, dan membiarkan sungai tercemar, maka kita sedang menggali lubang jebakan sendiri. Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi soal arah kebijakan. Dan hari ini, arah itu perlu dikoreksi sebelum semuanya terlambat.
Jangan sampai kita melakukan alih fungsi lahan besar-besaran dan melupakan pangan lokal kita.
Syaibatul Hamdi, Ketua PC PMII Bulukumba






