Mengenal Diri: Ilmu yang Terlupakan dalam Dunia Pendidikan

Opini | Pmiibulumba.id

Dalam perjalanan hidup ini, kita telah mengetahui empat jenjang pendidikan: Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga perguruan tinggi. Dari pengalaman itu saya menyadari, bahwa pendidikan bukan hanya tentang menghafal rumus 1+1=2, bukan pula sekadar ujian atau ijazah, melainkan tentang proses panjang mengenal siapa diri kita yang sebenarnya.

Hari ini, dunia masih kerap memandang pendidikan sebatas ruang kelas, nilai ujian, dan tumpukan buku teks. Namun jika kita telaah lebih dalam, pendidikan adalah proses menyelami kesadaran diri. Ini bukan sekadar wacana melainkan realita. Sebuah studi dari Harvard (2022) menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna justru terjadi ketika siswa mampu mengaitkan materi dengan prilaku kesehariannya. Dengan kata lain, pendidikan terbaik adalah yang mendorong seseorang memahami dirinya, bukan hanya memahami teori.

Setiap materi pelajaran, setiap persoalan yang kita hadapi di bangku sekolah atau kuliah, sejatinya adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan ketangguhan, kelemahan, emosi, dan keberanian kita dalam menghadapi tantangan. Ketika kita gagal dalam ujian, saat itulah kita mengasah daya tahan. Saat kita berdiskusi dengan teman, di situlah kemampuan sosial dan empati diuji. Dan ketika kita berhasil menyelesaikan satu proses pembelajaran, sejatinya kita sedang mengakui bahwa kita telah berubah meski sedikit menjadi versi diri yang lebih baik.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang dahulu dikenal sebagai Kusno Sosrodihardjo menegaskan bahwa “Pendidikan adalah cerminan sebuah bangsa.” Pernyataan itu tidak hanya berlaku dalam skala nasional, tapi juga personal. Pendidikan membentuk karakter individu, dan karakter individu membentuk wajah bangsa. Maka, semakin dalam pendidikan menggali kesadaran diri, semakin kuat pula fondasi bangsa dibangun.

Namun sayangnya, sistem pendidikan kita sering kali belum cukup memberi ruang bagi refleksi diri. Data dari UNESCO tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 60% sistem pendidikan di negara berkembang masih berfokus pada pendekatan kognitif yaitu hafalan, nilai, dan ujian tertulis tanpa memberi tempat yang layak bagi pembelajaran berbasis karakter dan kesadaran diri.

Padahal, menurut Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional atau kesadaran diri adalah fondasi utama dari kecerdasan emosional yang berdampak pada kesuksesan hidup seseorang, baik di dunia kerja maupun relasi sosial. Di sinilah letak urgensi untuk mereformasi paradigma pendidikan: dari sekadar transfer ilmu, menuju pembentukan kesadaran personal.

Pendidikan harus menjadi perjalanan menuju diri sendiri. Dalam tiap pelajaran, tersembunyi peta menuju pemahaman: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa yang benar-benar aku yakini? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting dari sekadar soal pilihan ganda. Karena saat seseorang mengenal dirinya, ia tidak hanya tahu arah hidup, tetapi juga tahu bagaimana cara bertahan dan berkembang dalam dunia yang penuh ketidakpastian.

Pendidikan sejatinya bukan alat untuk mencetak manusia seragam, melainkan medium untuk membebaskan. Bebas dari kebodohan, dari keraguan diri, dari kebingungan eksistensial. Maka pendidikan bukanlah tujuan, melainkan jalan. Dan diri kita sendiri adalah pintu yang harus kita buka dengan kunci bernama kesadaran.Karena di balik angka-angka rapor, tugas-tugas kampus, dan materi pelajaran, tersembunyi pelajaran paling penting dalam hidup ini: mengenal diri sendiri. Itulah ilmu paling berharga. Dan pendidikan adalah jalannya.

Mahendra, Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAI Al-Gazali Bulukumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *