Dibalik Gerbang Rumah Sakit: Kapitalisme yang Menginjak Kemanusiaan
Opini I pmiibulukumba.id
Rumah sakit seharusnya menjadi ruang paling manusiawi di tengah kerasnya kehidupan. Tempat orang mencari kesembuhan, mengantarkan harapan, atau bahkan melepas orang yang dicintai, kini justru menghadirkan sebuah ironi, rumah sakit berubah menjadi wajah paling telanjang dari kapitalisme yang rakus.
Salah satu potret paling nyata adalah praktik parkir berbayar. Parkiran rumah sakit sejatinya adalah fasilitas penunjang pelayanan kesehatan, kini disulap menjadi lahan bisnis. Setiap kendaraan yang masuk bukan lagi sekedar mengantar pasien, tetapi objek pungutan. Ironisnya, yang datang ke rumah sakit bukan orang yang sedang bersuka cita, melainkan mereka yang sedang cemas, berduka, dan terdesak keadaan.
Alih-alih meringankan beban, rumah sakit justru menambah daftar pengeluaran. Biaya parkir mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi bagi keluarga pasien yang harus bolak-balik, berhari-hari menjaga orang sakit, pungutan itu menjadi akumulasi penderitaan. Disinilah rumah sakit tampak lebih kapitalis daripada kapitalisme itu sendiri, memonetisasi empati, menjadikan duka sebagai peluang cuan.
Ironisnya, jika kita bandingkan dengan hotel. Hotel yang secara terang-benderang dimiliki oleh para pengusaha, berorientasi laba, bahkan melayani tamu kelas menengah ke atas, justru banyak yang menyediakan parkiran gratis. Padahal hotel adalah ruang bisnis murni. Sementara rumah sakit, yang membawa embel-embel pelayanan kesehatan dan kemanusiaan, malah sibuk menghitung pemasukan dari lahan parkir.
Logika bisnis telah mematikan nilai kemanusiaan. Pelayanan kesehatan memperlakukan layaknya komoditas pasar, di mana setiap jengkal lahan dan setiap menit kunjungan harus menghasilkan keuntungan. Padahal, rumah sakit bukan pusat dunia hiburan, bukan pula terminal atau gedung hiburan. Ia adalah lembaga sosial yang mestinya berdiri di atas prinsip pelayanan, bukan sekadar keuntungan.
Parkiran gratis seharusnya menjadi bentuk empati paling sederhana. Ketika ruang kesedihan dijadikan ladang bisnis, maka kita patut bertanya, masihkah rumah sakit berpihak pada kemanusiaan, atau telah sepenuhnya tunduk pada logika pasar?
Jika kapitalisme memiliki wajah paling dingin, maka wajah itu kini tampak jelas di pintu masuk rumah sakit, tepat di palang parkir yang terus terbuka untuk uang, namun tertutup bagi rasa empati masyarakat bawah.
Syaibatul Hamdi, Ketua Cabang PMII Kabupaten Bulukumba






