Vampir Wajah baru kapitalisme dikampus
Opini I pmiibulukumba.id
Pendidikan merupakan fondasi untuk mewujudkan gagasan ideal dalam membangun sumber daya manusia mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertuang dalam Undang-undang dasar 1945. Pendidikan juga menjadi pijakan manusia untuk membangun nalar yang kritis, moralitas dan karakter. Karena sejatinya pendidikan itu mencerahkan dan sebagai alat untuk menciptakan suatu peradaban masa kini dan yang akan datang.
Kampus menjadi wadah untuk merubah mindset yang tertinggal menuju mindset yang maju untuk membentuk generasi – generasi intelektual yang bermental kritis.
Tak bisa dipungkiri pendidikan memang menjadi nilai luar biasa jika dieratkan dengan bisnis dalam memberikan kontribusi ekonomi. Birokrasi dan tenaga pendidik (dosen) kampus yang harusnya menjadi teladan dalam membangun moralitas dan pembentukan karakter untuk generasi selanjutnya, malah memberikan ruang para oknum kapitalis untuk meraup keuntungan dibalik diktat atau modul pembelajaran sehingga mencederai tujuan daripada tujuan pendidikan itu sendiri.
Teringat dengan Neil Postman dalam melihat realita pendidikan hari ini bahwa pendidikan harus mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan, sejarah, dan berpikir kritis, serta menolak menjadikan sekolah sekadar pabrik penghasil tenaga kerja atau konsumen. Oleh karena itu, apa yang disampaikan oleh Neil Postman itu sangat konteks dengan realita pendidikan. Pendidikan harus berani berlawanan dengan bias budaya saat ini (misalnya obsesi pada teknologi atau konsumerisme instan.
Terlebih lagi dengan budaya yang sudah menjadi tradisi yang sangat erat dengan budaya kapitalisme dan mengungkung cara berpikir kritis mahasiswa dengan melakukan intervensi personal dikampus. Nilai akademik selalu menjadi bayang – bayang bagi mahasiswa yang membuat mahasiswa menjadi subjektif dalam melihat realitas yang substansial dilingkungan kampus.
Akhirnya ruang – ruang kapitalisme tumbuh secara perlahan dan mengakar seperti adanya penjualan buku dikampus oleh dosen-dosen dengan harga yang fantastis demi syarat untuk nilai akademik yang bagus. Belum lagi soal uang SPP yang naik pertahun tanpa mempertimbangkan ekonomi mahasiswa, tiap final ada istilah kartu ujian yang dibayar agar mahasiswa bisa mengikuti ujian tiap semester. Inilah bukti nyata kapitalisme menggerogoti pendidikan.
Sungguh ironis, jika pendidikan dijadikan lahan bisnis untuk meraut keuntungan secara personal didalam perguruan tinggi. Nalar kritis mahasiswa dibungkam dengan nilai plus asalkan diktat ini laris manis dan tentu ini sudah menjadi tradisi di perguruan tinggi swasta. Tentu ini membunuh karakter mahasiswa dan merusak psikis secara tak langsung oleh oknum dosen yang mendiskriminasi mahasiswa tersebut agar untuk membeli diktat untuk kepentingan pribadi. Hal ini harus menjadi perhatian bagi birokrasi kampus untuk membenahi dan memberikan evaluasi bagi tenaga pengajar agar mahasiswa tidak dimanfaatkan sebagai pasar bebas untuk keuntungan person.
Melihat perkembangan kampus hari ini saya langsung teringat dengan film Abraham Lincoln yang berjudul Vampire Hunter, dimana Abraham Lincoln adalah seorang pemburu vampir yang terkemuka dan itu juga sama yang disampaikan bahwa modal adalah tenaga kerja mati yang, seperti vampir, hanya hidup dengan mengisap tenaga kerja yang hidup. Dan semakin hidup, semakin banyak tenaga kerja yang disedotnya.
Artinya konsep yang disampaikan Marx sangat konteks dengan kapitalisme yang terjadi didalam dunia pendidikan, dimana kampus menjadi pasar dan mahasiswa hanya sebagai komoditi. Padahal pendidikan itu membebaskan bukan membelenggu dan merawat kebodohan.
Vampir istilah yang sudah tak asing ditelinga, mereka merupakan manusia jadi – jadian yang hanya bisa bertahan hidup dengan menghisap darah manusia di malam hari. Vampir dan kapitalisme ini memiliki makna yang sama menghisap uang dengan meraut keuntungan yang besar.
Pendidikan adalah alat pembebasan, bukan alat pemerasan. Ketika diktat dijadikan syarat mutlak kelulusan, maka saat itulah pendidikan telah mati dan berubah menjadi transaksi jual beli nilai yang murahan dan begitulah wajah kapitalisme yang berubah menjadi Vampir yang mematikan.
Agus Wijaya, Wakil Sekretaris Bidang Internal PK PMII STAI Al-Gazali Bulukumba






