Sumpah Pemuda: Menagih Janji Persatuan dalam Isu Perempuan dan Anak
Opini | pmiibulukumba.id
Sumpah Pemuda bukanlah sekadar ritual sejarah tapi kontrak sosial yang belum sepenuhnya lunas, terutama dalam isu perempuan dan anak.
Jika pemuda 1928 berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka pemuda-pemudi hari ini memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ikrar tersebut sebagai “Tanah Air yang Aman,” “Bangsa yang Setara,” dan “Bahasa yang Memberdayakan.”
Persatuan sejati tidak akan pernah terwujud jika separuh populasi perempuan masih menghadapi kekerasan, diskriminasi, dan ketidaksetaraan dalam akses, sementara anak-anak sebagai pewaris masa depan, terus rentan terhadap eksploitasi. Sumpah Pemuda menagih kita apakah persatuan yang kita rayakan hari ini telah secara fundamental melindungi yang paling rentan? Jawabannya terletak pada sejauh mana kita mampu mengubah semangat heroisme menjadi aksi nyata dalam kebijakan publik dan budaya sehari-hari yang menjamin keadilan gender dan pemenuhan hak anak. Momentum ini harus menjadi titik tolak ukur bagi generasi muda untuk mematahkan rantai patriarki dan menjadikan Indonesia sebagai rumah yang benar-benar adil dan aman bagi semua.
Di Bulukumba, pemuda memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai lokal, penggerak perubahan sosial, dan pencipta ruang yang inklusif.
Melalui gerakan komunitas, advokasi kebijakan, dan ekspresi kreatif, pemuda bisa menjadi katalis transformasi yang berpihak pada keadilan, keberagaman, dan keberdayaan.
Peran ini juga diperkuat oleh Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pembangunan Kepemudaan, yang menegaskan bahwa pemuda harus diberdayakan secara sistematis melalui pendidikan, pelatihan, dan partisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Ini bukan sekadar regulasi, tetapi mandat untuk menciptakan ekosistem kepemudaan yang progresif dan berkelanjutan.
Sebagai Ketua KOPRI PC PMII Bulukumba, Nilam Mayasari percaya bahwa pemuda hari ini harus berani melampaui seremoni. Pemuda harus menjadi penulis narasi baru, narasi yang menggugat ketidakadilan, merawat keberagaman, dan membangun ruang hidup yang menyembuhkan.
Sumpah Pemuda adalah panggilan untuk bertindak, bukan hanya mengenang.
Nilam Mayasari : Ketua Kopri PC PMII Bulukumba






