Suara Pelosok, Gema Kebebasan

Puisi || Pmiibulukumba.id

Di antara hijaunya padi yang menari dibelai angin,
Dan birunya langit yang bersenandung diam,
Desa tersembunyi, tapi semangatnya lantang
Menyusuri jalan setapak
urat bumi yang menyimpan kisah,
Suara hati yang ikhlas, membakar lelah menjadi cahaya.

Dari desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota,
Hamparan alam bagai lukisan yang tak pernah dipamerkan.
Bukan suara klakson atau sorak pasar,
Tapi suara jujur dari dada yang sabar,
Penuh harapan yang tak kunjung pudar,
Seperti pelita yang terus menyala meski diguyur hujan.

Suara burung berkicau, pagi menyapa dengan lembut,
Anak-anak berlari riang, membawa semangat di balik debu.
Walau tempat belajar rapuh dan lusuh,
Tekad mereka kokoh,
Seperti akar pohon yang menggenggam tanah dengan setia.

Suara hati yang lama terpendam, kini mengetuk dinding langit.
Ia bukan sekadar bisikan, tapi seruan dari luka.
Penuh harapan yang tak mau mati,
Gema kebebasan yang mulai bernyanyi,
Di dada-dada yang dulu diam.

Mereka ingin didengar, bukan dikasihani.
Ingin diakui bukan ditinggalkan.
Karena suara pelosok adalah suara negeri,
Yang lahir dari peluh, bukan sorotan,
Dan akan terus menggema,
Sampai keadilan tahu jalan pulang.

Rifkah Anisa, Anggota PK PMII STAI Al-Ghazali Bulukumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *