Bantuan Langsung Tunai (BLT) Tak Mengurangi Angka Putus Sekolah di Bulukumba
Opini | Pmiibulukumba.id
Sebuah ironi sosial tengah terjadi di Kabupaten Bulukumba khususnya di dunia pendidikan. Di tengah penurunan angka kemiskinan dan meningkatnya penerima manfaat, angka peserta didik yg melanjutkan pendidikannya semakin menurun. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas kebijakan pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia.
Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa angka lanjut sekolah dari jenjang Sekolah Dasar (SD) Sampai dengan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami penurunan sesuai dengan data yang ada pada Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan.
Total siswa SD, SMP, Dan SMA mengalami penurunan dari tahun 2020 sampai 2024. Ironisnya, total siswa SD di tahun 2020 berjumlah (43.588) dan siswa SMA di tahun 2024 berjumlah (10.857) ini menunjukkan ada banyak siswa yg tdk melanjutkan pendidikannya sampai pada bangku SMA yaitu sebanyak 32.731, angka yang cukup fantastis bagi anak yang putus sekolah.
Bersamaan dengan hal di atas data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa angka keminiskinan di Bulukumba itu mengalami tren penurunan 5 tahun belakangan ini dari 7,1% di tahun 2020 menglami penurunan ke 6,71% pada tahun 2024. Disisi lain angka penurunan kemiskinan diperkuat dengan melihat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bulukumba dari tahun 2022 sampai 2024 dan telah mengalami peningkatan. Hal tersebut menandakan Kabupaten Bulukumba mengalami pertumbuhan ekonomi.
Tidak sampai disitu, angka penerima manfaat di Kabupaten Bulukumba juga semakin meningkat baik melalui Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT). Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Eddy Sugianto, menunjukkan bahwa faktor utama penyebab siswa tidak lanjut sekolah adalah masalahan ekonomi orang tua yang memprihatinkan.
Namun melihat data statistik sebelumnya, permasalahan ekonomi kabupaten Bulukumba ternyata telah mampu ditangani dengan baik. Seharusnya jumlah siswa yang lanjut sekolah mengalami peningkatan, karena hal yang menjadi faktor utama tidak lanjut sekolah di Kabupaten Bulukumba telah teratasi. Namun, realitas yang terjadi di kabupaten bulukumba malah sebaliknya, dimana menurunnya angka kemiskinan juga di ikuti dengan penurunan angka lanjut sekolah setiap tahunnya di Kabupaten Bulukumba hal ini kemudian memunculkan pertanyaan pada diri kita khususnya saya pribadi saya, bahwa apa yang menjadi penyebab angka lanjut sekolah di kabupetan bulukumba mengalami penurunan?
Ternyata, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan di salah satu desa di kabupaten bulukumba menjawab pertanyaan yang muncul. Anak-anak yang tdk lanjut sekolah disebabkan karena mereka melihat banyaknya sarjana yang kembali ke kampung halaman dan menjadi masyarakat biasa atau bisa dikatakan mereka tidak mendapat pekerjaan yang layak, sehingga menjadi tolak ukur di kalangan masyarakat bahwa sekolah yang tinggi hanya akan menghabiskan banyak waktu dan biaya. Masyarakat beranggapan bahwa sarjana saja kembali ke kampung bertani seperti layaknya petani-petani di kampung yang ilmunya itu bisa di dapatkan di luar bangku sekolah.
Fenomana ini menjadi PR besar bagi pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk segera mencari solusi atau mengatasi minat lanjut sekolah di Kabupaten Bulukumba yang setiap tahunnya semakin menurun.
Berdasarkan hal tersebut, Indonesia kedepannya akan mengalami bonus demografi, fenomena ini juga pasti akan terjadi di Kabupaten Bulukumba, dimana proporsi jumlah pendudukan usia produktif lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Kita juga tahu bersama bahwa ini akan membawa dampak positif apabila tertangani dengan baik, namun ketika permasalahan yang ada di Bulukumba saat ini tidak bisa di atasi, maka bonus demografi itu juga tdk bisa di manfaatkan dengan baik. hal ini hanya akan berdampak buruk bagi generasi mendatang.
Adrian Surya Pratama, Wakil Ketua Bidang Eksternal PK PMII UMB






